Untuk Ananda tercinta Fauzan Ali

Sebuah blog untuk mencapai pencerahan jiwa berdasarkan pengalaman dan pemikiran pribadi untuk anak tercinta Fauzan Ali.


Tampilkan postingan dengan label Renungan Qolbu. Tampilkan semua postingan

Setelah fali memahami apa artinya hidup ini dan tafakur sebagai jalan masuknya hikmah, maka yang perlu fali ketahui selanjutnya adalah Untuk apa Fali dilahirkan di dunia ini.

KEBERADAAN MANUSIA MELALUI SUATU PROSES

Allah selalu menciptakan sesuatu secara bertahap, yaitu dengan melalui suatu proses yang berkesinambungan. Manusia misalnya, ia diciptakan tidak langsung dewasa. Tetapi melalu proses yang bermulai dari bentuk air, lalu menjadi janin, kemudian menjadi bayi, lalu menjadi anak-anak, dan akhirnya menjadi dewasa. Demikian juga dengan tanaman. Dimulai dari biji, kemudian timbul tunas, batang, daun dan seterusnya, sampai akhirnya berbunga atau berbuah.

Yang perlu fali sadari dari fenomena ini ialah, baik atau buruknya kualitas manusia atau pun tumbuhan setelah dewasa nanti, sangat ditentukan oleh proses pemeliharaan atau bekal yang diterimanya dari sejak dini. Kualitas manusia di dunia, ditentukan sejak mulai berada dalam perut ibunya. Si calon ibu ini memakan makanan yang bergizi agar kelak bayinya sehat. Kemudian bayi tersebut diberinya makanan yang baik, serta dilindungi keamanannya supaya menjadi anak yang sehat. Selanjutnya, anak ini dilengkapi dengan gizi dan bekal pendidikan yang cukup, disekolahkan yang tinggi, sehingga pada akhirnya ia menjadi orang

Tumbuhan pun demikian. Pemeliharaannya dari sejak kecil di beri pupuk, disiram, disiangi, dilindungi dengan anti hama akan menentukan kualitasnya pada saat ia berbunga atau berbuah nanti.

Demikian pulalah kiranya Allah menjadikan eksistensi manusia di akhirat.

Kualitas manusia di akhirat nanti, akan ditentukan setelah ia melalui proses ujian demi ujian terhadap ketaatannya pada Allah selama hidupnya di dunia. Jadi jelaslah, kualitas fali di akhirat nanti, tergantung pada keberhasilan fali sendiri dalam mengatasi ujian – ujian yang dihadapi, apakah fali mampu selalu taat mengikuti perintah-perintahNya, atau membangkang sebagaimana yang dilakukan iblis ketika diperintahkan sujud kepada Adam.

Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
Niscaya Allah memasukannya ke dalam surga.
Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
Dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya
Allah memasukannya kedalam api neraka sedang ia
Kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan
An-Nisaa’ (4):13,14


TUJUAN HIDUP

Setelah fali memahami apa yang akhirnya akan dituju oleh setiap manusia, serta ‘Kualitas’ berasal dari suatu proses, maka yang perlu fali ketahui selanjutnya adalah, apa sebenarnya tujuan hidup manusia di dunia. Kesadaran ini sangat penting. Karena seseorang yang tidak mengetahui untuk apa tujuan hidupnya, maka pastilah ia tidak mengerti siapa dirinya itu, dan dari mana ia berasal. Akibatnya, ia akan melangkah ke arah yang keliru.

Selanjutnya, dengan memperhatikan firman-firman Allah yang telah dikutip sebelumnya, jelaslah bahwa tujuan hidup manusia di dunia, pada hakikatnya adalah untuk mencari/mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya bagi kehidupan akhirat. Tingkat manusia di akhirat nanti, akan ditentukan oleh sedikit banyaknya bekal yang dibawa dari dunia. Semakin banyak bekalnya, maka akan semakin tinggi pula tingkat kemuliaannya. Apakah yang dimaksud dengan bekal itu ? Jika untuk mencapai kedudukan tinggi di masyarakat kita harus berbekal pendidikan yang cukup, maka untuk mencapai kedudukan tinggi di akhirat nanti, yang kita perlukan adalah pahala.

Dengan demikian dapatlah dikatakan, kehidupan di alam dunia ini adalah arena untuk mengumpulkan pahala bagi kehidupan akhirat. Semakin banyak pahala yang berhasil kita raih, maka semakin tinggi pula tingkat kita kelak.

Abdullah bin Abbas berkata :

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan dunia terdiri atas tiga bagian; sebagian bagi mukminin, sebagian bagi orang munafik, sebagian bagi orang kafir. Maka orang mukmin menyiapkan perbekalan, orang munafik menjadikannya perhiasan, dan orang kafir menjadikannya tempat bersenang-senang.”

TEMPAT MENCARI PAHALA

Pahala adalah hadiah yang diberikan Allah kepada manusia apabila ia lulus dari ujian yang dihadapinya. Ujian-ujian ini pada dasarnya terletak pada dua jalur, yaitu jalur hablum-minallah dan jalur hablum-minannas. Pada kedua jalur ini, Allah dan Rasul-Nya telah menentukan “aturan main” bagaimana manusia harus bersikap. Misalnya saja, dalam jalur hablum-minnallah manusia diwajibkan shalat; dan dalam jalur hablum-minannas manusia diwajibkan berbuat baik terhadap sesamanya. Semua “Aturan Main” ini tertuang lengkap dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw.

Allah melengkapi manusia dengan mata, telinga, dan hati bukan tanpa tujuan. “Perlengkapan” ini merupakan sarana bagi Allah untuk menguji manusia, apakah dalam setiap situasi dan kondisi – baik atau pun buruk – ia mampu tetap taat mengikuti “aturan main” yang sudah ditetapkan-Nya atau tidak.

Simaklah baik-baik surat Al-Insaan:2,3 berikut :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.
Al-Insaan (76):2,3


Supir ugal-ugalan dijalan raya, atasan yang menjengkelkan, kolega yang picik, ataupun teman yang menyebalkan, ini semua terjadi karena Allah melengkapi kita dengan mata, telinga dan hati. Oleh karena itu, orang-orang negatif ini harus dipandang sebagai ujian Allah pada jalur hablum-minannas. Apabila orang-orang ini dapat kita hadapi sesuai dengan tuntunan yang diberikan-Nya melalu Rasul-Nya, maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila mereka kita hadapi dengan emosi atau nafsu, maka berarti kita gagal. Hendaklah kita senantiasa mengingat pengalaman para bijak, “Kepuasan sejati bukanlah menuruti hawa nafsu, tetapi kepuasan sejati adalah keberhasilan menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu.”

Dengan demikian, dapatlah dimengerti, bahwa semua masalah, baik itu masalah hubungan dengan Allah (seperti misalnya rasa malas mendirikan shalat), maupun masalah hubungan dengan manusia (seperti misalnya menghadapi orang yang menjengkelkan), pada hakikatnya adalah hendak menguji, mampu atau tidak kita bersikap sesuai dengan kehendak Allah dan Rasulullah saw. Bila kita dapat bertindak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadits dengan niat “ lillahi ta’ala”, maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila masalah itu kita hadapi dengan nafsu, berarti kita gagal. Begitulah medan perjalanan yang harus ditempuh manusia dalam menuju surga. Dalam perjalanan itu pasti akan ditemui halangan dan rintangan yang kesemuanya itu merupakan ujian apakah kita mampu mengatasinya atau tidak.

Barang siapa yang mengerjakan amal-amal
Saleh baik ia laki-laki maupun perempuan sedangkan ia
orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke
Dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.
An-Nisaa’(4):124


Dan surga itu diberikan kepada kamu
Berdasarkan amal yang telah kamu kerjakan.
Az-Zuhruf(43):72


Dengan memahami hal tersebut diatas, akan dapat mencegah fali tertipu dan terlena mengikuti emosi atau pikiran negatif, sehingga tidak akan menyimpang dari aturan main yang ditetapkan-Nya. Dan, insya Allah, Fali tidak akan mengalami stress ataupun menjadi pendendam.

Akhirnya, pada diri anandaku Fauzan Ali, tanyakanlah pada diri sendiri ….

SIAPAKAH AKU?

Darimana asalku, dan hendak kemana Aku menuju? Untuk apakah Aku diciptakan-Nya? Apa cita-citaku? Siapa Musuhku? Apa senjataku? Siapakah istriku / suamiku? Siapakah anakku? Apakah kompas hidupku? Siapakah tokoh idolaku? Berapa lama jatah yang diberikan-Nya padaku untuk tinggal di dunia? Kemanakah Aku akan pergi setelah itu? Bagaimana keadaanku nanti disana? Makin susah ataukah makin senang?

Bila Fali bisa menjawab semuanya itu, berarti fali sudah mulai mengerti dan memahami apa yang abi maksud.

Jakarta, 19 september 2008 at 22.00 WIB

Semua manusia, tanpa terkecuali, pasti akan mati. Bila demikian, lalu apa sebenarnya yang akan dituju oleh manusia di alam dunia ini. Apakah manusia hidup semata-mata hanya untuk bekerja, berumah tangga, bersenang-senang dengan harta yang dimilikinya, ataupun berkeluh kesah dalam kemiskinan, kemudian ia lalu mati tidak berdaya?Apakah setelah mati itu ia akan hilang menguap seperti halnya api obor yang padam? Atau, apakah manusia yang dilahirkan dalam “ketiadaan” itu akan mati dalam “ketiadaan” pula ? Bila ya, apakah berarti hidup manusia di dunia ini sia-sia belaka? Tentu tidaklah demikian. Allah telah berfirman, bahwa manusia akan terus ada dan tidak akan pernah menghilang atau menguap. Manusia akan menjalani kehidupan abadi di akhirat.

Dengan demikian, jelaslah bahwa sesungguhnya yang dituju oleh semua manusia adalah akhirat ! Cepat atau lambat, suka atau tidak suka, semua manusia pasti akan menuju kesana.

Apakah kalian mengira bahwa kami
Menciptakan kalian sia-sia, dan bahwa
Sesungguhnya kalian tidak akan di-
Kembalikan kepada Kami ?
Al-Mu’minun (23):115


Apakah manusia mengira,
Bahwa ia akan dibiarkan begitu saja
(tanpa pertanggung jawaban) ?
Al-Qiyamah(75):36

Sesungguhnya hari kiamat akan
Datang (dan) Aku merahasiakan (waktunya)
Agar tiap-tiap diri dibalas dengan apa
Yang diusahakannya.
Thaahaa (20):15


Allah berencana membuat surga dan neraka, yang akan ditempati antara lain oleh manusia. Untuk menentukan siapa yang akan menjadi penghuni surga dan siapa yang menempati neraka, maka Allah membuat ‘Aturan Main’ yang harus di taati, yaitu sebagimana yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadits. Manusia yang patuh melaksanakan ‘Aturan Main’ ini, dijanjikan-Nya menjadi penghuni surga. Sebaliknya, manusia yang selalu melanggar ‘Aturan Main’ ini akan di campakan-Nya kedalam neraka. Dengan demikian, hidup manusia di dunia sebenarnya adalah “babak prakualifikasi” untuk menentukan tempat tinggalnya nanti di akherat. Dan disana, karena kita semua telah diberi-Nya kesempatan dan peluang yang sama pada waktu hidup didunia, di manapun kita ditempatkan-Nya, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Masing-masing orang akan menghisab dirinya sendiri, dengan membaca kitab amal perbuatannya selagi hidup di dunia, yang akan digantungkan di lehernya masing-masing [ Al-Israa’ (17):13-14 ]


Keterangan singkat yang diuraikan diatas, sekilas tampaknya sederhana, namun bila Fali renungkan baik-baik, makna yang tersirat sangatlah dalam. Pahamilah hal ini dengan baik, karena inilah fundamen yang paling mendasar untuk dapat menemukan / mengerti kebenaran hidup yang hakiki.

Untuk mematuhi ‘Aturan Main’ yang ditentukan-Nya, maka fali harus selalu ingat Allah. Allah tak akan pernah berhenti menguji keuletan manusia dalam mematuhi aturan main yang ditentukan-Nya. Oleh karena itu fali harus mengetahui dimana letaknya ujian itum dab bagaimana caranya agar dapat lulus dari ujian Allah itu.



Bertafakurlah Sebagai jalan masuknya hikmah

Adalah akan jauh lebih baik, bila fali menemukan kebenaran dari hasil perenungan sendiri daripada menerima suatu kebenaran dari orang lain ( pepatah barat mengatakan : “ I hear I forget, I see I Know, I do I Understand” )

Menerima kebenaran dan menemukan kebenaran adalah sesuatu yang berbeda. Menerima kebenaran cukuplah dengan bertaqlid atau ‘Mengikut’ , sedangkan menemukan kebenaran hanya akan di peroleh melalui perenungan demu perenungan yang mendalam.

Sudah menjadi sunatulah bahwa kebenaran yang ditemukan sendiri, ibarat mata air yang tidak pernah kering; sedangkan kebenaran yang kita terima dari manusia, ibarat hujan di musim kemarau. Tentu saja yang dimaksud kebenaran disini bukanlah kebenaran dalam konteks seperti dua tambah dua sama dengan empat, tetapi maksudnya adalah kebenaran yang sifatnya memberikan “pencerahan” bagi jiwa; misalnya saja “perbuatan maksiat itu artinya sama dengan menanda tangani kontrak untuk tinggal di neraka. “

Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a berkata :


“Janganlah kamu mengenal dan mengikuti
Kebenaran karena tokohnya; tetapi kenalilah ke-
Benaran itu sendiri, niscaya kamu akan
Mengetahui siapa tokohnya!”

Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.
Al- Baqarah (2) : 269


Seperti halnya rezeki, maka hikmah ini pun hanya dapat diberikan Allah kepada orang-orang yang berusaha untuk mendapatkannya; yaitu yang mau menggunakan kemampuan akal dan rasa yang dimilikinya untuk bertafakur. Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Tiada ilmu yang lebih baik daripada hasil tafakur.” Dan di dalam Al-Qur’an pun, ditemukan tidak kurang dari 130 kali perintah Allah untuk berfikir (antara lain pada surat Shaad:29, Adz-Dzariyaat 20-21, Yunus:24) ; serta kehinaan akan menimpa orang yang tidak mau bertafakur(Al furqan:44, Al-A’raaf:179, Al-Mulk:10).

Apa yang harus di tafakuri ?

Sesungguhnya buah dari tafakur adalah keyakinan-keyakinan ilahiyyah yang akan memudahkan kita dalam pengendalian diri agar dapat selalu taat pada keinginan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu banyak obyek yang dapat di tafakuri, antara lain :
Bertafakur mengenai tanda-tanda yang menunjukan kekuasaan Allah; akan lahir darinya rasa tawadhu (rendah hati) dan rasa taqzim akan keagungan Allah.
Bertafakur mengenai kenikmatan – kenikmatan yang telah Allah berikan; akan lahir darinya rasa cinta dan syukur kepada Allah.
Bertafakur tentang janji Allah; akan lahir darinya rasa cinta kepada Akhirat.
Bertafakur tentang ancaman Allah; akan lahir darinya rasa takut kepada Allah.
Bertafakur tentang sejauh mana ketaatan kita kepada Allah sementara ia selalu mencurahkan karunianya kepada kita; akan lahir darinya kegairahan dalam beribadah.

Contoh Tafakur :

Bila direnungkan, sedetik dari hidup ini pun sudah mukzizat. Bagaimana kita bisa bernafas, punya jantung yang berdetak, mata berkedip, telinga yang dapat mendengar, lidah yang dapat merasakan kenikmatan makanan, dan seterusnya. Semuanya sungguh menakjubkan !
Ketika gigi tanggal satu, kita menjadi susah makan. Ya Allah, gigi satu hilang begitu susahnya. Sekian tahun Engkau berikan gigi itu, baru sekarang disadari artinya ketika dia copot. Satu gigi menjadi begitu bernilainya, lalu bagaimana dengan tangan, hidung, mata, telinga dan otak ?
Dengan bertafakur seperti ini, akan timbul rasa malu. Betapa Allah telah memberikan karunia yang sangat banyak, tetapi kita tidak mengabdi kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh.
Mengerti atau mengenal “kebenaran” saja tidaklah cukup. Karena Al-Qur’an mengatakan, bahwa orang yang terhindar dari “kerugian” adalah mereka yang memenuhi 4 kriteria; pertama, yang mengenal kebenaran; kedua, yang mengamalkan kebenaran; ketiga, yang saling nasihat menasihati mengenai kebenaran; dan keempat, yang sabar dan tabah dalam mengamalkan serta mengajarkan kebenaran.

Al-Qur’an tanpa akal lumpuh, Akal tanpa bimbingan Al-Qur’an tertipu !
Akal tanpa Qolbu, menjadikan manusia seperti robot;
Pikir tanpa Zikir, menjadikan manusia seperti setan

Bertafakurlah dengan Pikir dan Zikir sehingga akan menimbulkan keyakinan/hikmah yang akan mengakibatkan kita menjadi orang yang TAAT, dan dengan TAAT hidup Bahagia , Akherat Surga.

Contoh tafakur mengenai MUSIBAH :

Bila kita pikir dengan akal :

Musibah tidak diragukan lagi adalah sesuatu yang buruk
Tidak ada seorangpun yang mau menerima musibah
Musibah identik dengan apes atau sial
Musibah merupakan hasil perbuatan jahat orang lain pada diri kita
Musibah terjadi semata-mata karena kecerobohan kita saja.

Dari proses pikir yang demikian, akan menghasilkan output antara lain:

Wajar orang mengalami Stress ketika tertimpa musibah
Orang yang ditimpa musibah adalah orang yang malang, yaitu orang yang sedang apes atau sial.
Berbuatlah dengan perhitungan yang matang supaya tidak tertimpa musibah.

Hasil ini akan berbeda bila disertai dengan zikir (menghadirkan ‘nuansa ilahiyyah’ dalam kalbu kita):
Allah Selamanya Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Allah tidak Zalim, Ia Maha Adil
Allah Maha Pandai, Maha Pengatur lagi Maha Suci
Allah mendengar doa manusia

Interaksi ( perpaduan ) antara pikir dan Zikir akan menghasilkan keyakinan-keyakinan sebagai berikut :

Tidak wajar bila kita Stress pada waktu mengalami musibah, bukankah hal ini merupakan realisasi dari permintaan kita “ihdinashshiraathal mustaqiim” ?
Bila Allah memberikan musibah, sebenarnya yang ingin Dia sampaikan oada kita adalah hikmah = “banyak kenikmatan yang dilipat diantara taring-taring bencana.”Musibah adalah tanda cinta Allah pada kita, yaitu Dia memberikan peluang bagi kita untuk meningkatkan ketaqwaan, bukankah manusia yang paling hebat itu adalah yang paling taqwa ?

Bismillahirrohmanirrohiim

Fali yang Abi sayangi,

Abimu ini bukanlah seorang ulama atau ahli bahasa arab, dan Abi tidak pula menguasai 14 ilmu. Abi hanyalah orang biasa, yang kebetulan saja ketika menyelami samudera Ilahiyyah, menemukan banyak mutiara. Nah, mutiara-mutiara inilah yang ingin Abi bagi-bagikan kepada Fauzan ali khususnya, yaitu sebagai bekal dalam pengembaraan fali di alam dunia ini.

Rasulullah saw, manusia paling bijak dan paling mulia yang menjadi panutan kita, dalam suatu hadits yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari pernah bersabda :

Aku telah datang ke surga, maka terlihat olehku kebanyakan mereka adalah para fakir miskin; dan tatkala aku menjenguk ke neraka, terlihat olehku kebanyakan mereka adalah perempuan.

Insya Allah, Blog ini dapat bermanfaat sebagai tuntunan untuk memudahkan Fali dalam memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Al-Hadits, sehingga di alam pengembaraan ini fali dapat hidup bahagia, dan di akhir perjalanan nanti terhindar dari kategori perempuan sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah saw di atas.

“Semua anak Adam juru salah……
dan sebaik-baiknya orang-orang salah itu, yang cepat bertaubat.”


Akhirnya Abi berdoa kepada Allah swt, semoga usaha Abi ini tidaklah sia-sia belaka. Amiin

Jakarta 22 Mei 2008

Pahala adalah hadiah yang diberikan Allah kepada manusia apabila ia lulus dari ujian yang dihadapinya. Ujian – ujian ini pada dasarnya terletak pada dua jalur, yaitu jalur hablum-minallah dan hablum-minannas . Pada kedua jalur ini, Allah dan Rasul-Nya telah menentukan “ aturan main ” bagaimana manusia harus bersikap. Misalnya saja, dalam jalur hablum-minallah manusia diwajibkan shalat; dan dalam jalur hablum-minannas manusia diwajibkan berbuat baik terhadap sesamanya. Semua “ aturan main ” ini tertuang lengkap dalam Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah saw.


Barang siapa yang dapat tetap patuh melaksanakan “aturan main” ini, dengan niat semata-mata karena Allah, maka ia disebut orang yang bertaqwa. Dan dia akan memperoleh pahala, yang kelak akan dirasakan kenikmatannya di akhirat nanti. Jadi dengan perkataan lain, ladang tempat mencari pahala itu terletak pada jalur hablum-minallah dan hablum-minannas, karena pada dua jalur inilah Allah menguji ketaatan manusia mematuhi aturan-aturan yang ditentukan-Nya dalam Al-Qur'an dan Hadits.


Allah melengkapi manusia dengan mata, telinga, dan hati bukan tanpa tujuan. “Perlengkapan” ini merupakan sarana bagi Allah untuk menguji manusia, apakah dalam setiap situasi dan kondisi baik ataupun buruk ia mampu tetap taat mengikuti “aturan main” yang sudah ditetapkan-Nya atau tidak.


Simaklah baik-baik surat Al-Insaan:2,3 berikut :


Sesungguhnya kami telah menciptakan Manusia dari setetes mani yang Bercampur yang kami hendak mengujinya ( dengan perintah dan larangan ), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya kami telah menunjukinya Jalan yang lurus, ada yang bersyukur Dan ada pula yang kafir.


Al-Insaan (76):2,3


Supir ugal-ugalan di jalan raya, atasan yang menjengkelkan , kolega yang picik , ataupun teman yang menyebalkan , ini semua terjadi karena Allah melengkapi kita dengan mata, telinga, dan hati. Oleh karena itu, orang-orang negative ini harus dipandang sebagai ujian Allah pada jalur hablum-minannas . Apabila orang-orang ini dapat kita hadapi sesuai dengan tuntunan yang diberikan-Nya melalui Rasul-Nya, maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila mereka kita hadapi dengan emosi dan nafsu, maka berarti kita gagal. Hendaklah kita senantiasa mengingat pengalaman para bijak, “ Kepuasan sejati bukanlah menuruti hawa nafsu, tetapi kepuasan sejati adalah keberhasilan menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu. ”


Dengan demikian, dapatlah dimengerti, bahwa semua masalah, baik itu masalah hubungan dengan Allah ( seperti misalnya rasa malas mendirikan shalat ), maupun masalah hubungan dengan manusia ( misalnya menghadapi orang yang menyebalkan , pada hakikatnya adalah hendak menguji, mampu atau tidak kita bersikap sesuai dengan kehendak Allah dan Rasulullah saw. Bila kita dapat bertindak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Al-Qur'an dan hadits dengan niat “ lillahi ta'ala “, maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila masalah itu kita hadapi dengan nafsu, berarti kita gagal. Begitulah medan perjalanan yang harus ditempuh manusia dalam menuju surga. Dalam perjalanan itu pasti akan ditemui halangan dan rintangan yang kesemuanya itu merupakan ujian apakah kita mampu mengatasinya atau tidak. Tidak ada seorangpun manusia yang dibiarkan melalui jalan yang tanpa rintangan. Bahkan para kekasih-Nya sendiri, yaitu para nabi-nabi, melewati jalan yang jauh lebih sulit. Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih puteranya sendiri; sementara nabi Ayub dimusnahkan seluruh harta kekayaanya dan keturunannya, serta terserang penyakit menular yang sangat menjijikan. Sedangkan nabi Muhammad dilempari kotoran unta dan batu serta diboikot perekonomiannya sehingga beliau dan keluarganya serta para pengikutnya mengalami kelaparan yang amat sangat akibat kekurangan bahan makanan. Namun perlu kita ingat, bila ujian-ujian yang ditemui dalam perjalanan ini berhasil diatasi, maka hal-hal itu akan diperhitungkan Allah sebagai amal saleh, yang kelak akan diganjar dengan pahala. Semakin banyak amal saleh yang kita lakukan, maka akan semakin besar pula peluang kita untuk masuk ke dalam surga. Lihatlah penegasan Allah dalam Al-Qur'an berikut ini :


Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal Saleh baik ia laki-laki maupun perempuan Sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka Itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak Dianiaya Walau sedikit pun.


An-Nisaa' (4):124



Dan surga itu diberikan kepada kamu Berdasarkan amal yang telah kamu kerjakan .


Az-Zuhruf (43):72


Sesungguhnya orang-orang yang beriman Dan beramal saleh, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka Kekal didalamnya, mereka tidak ingin Berpindah daripadanya .


Al-Kahfi (18):107,108


Dan orang-orang yang beriman dan me-Ngerjakan amal-amal saleh, kelak akan kami Masukan mereka ke dalam surga …..


An-Nisaa' (4):57


Dan orang-orang yang beriman dan Mengerjakan amal-amal saleh, kami tidak Memikulkan kewajiban kepada diri seseorang Melainkan sekedar kesanggupannya, mereka Itulah penghuni-penghuni surga, Mereka kekal di dalamnya .


Al-A'raaf (7):42


Dengan memahami hal tersebut di atas, akan dapat mencegah kita tertipu dan terlena mengikuti emosi atau pikiran yang negative, sehingga tidak akan menyimpang dari aturan main yang ditetapkan-Nya. Dan, insya Allah, kita tidak akan mengalami stress ataupun menjadi pendendam.


Sebagaimana telah diketahui, kekuatan manusia yang paling dahsyat dalam mengatasi ujian-ujian Allah adalah hati (kalbu). Oleh karena itu kita harus pandai-pandai merawat hati agar ia tidak menjadi rusak [ Asy-Syam (91):9-10 ]. Adapun salah satu kiat untuk menjaga hati, adalah dengan mengendalikan mata. Bila direnungkan, mata pada hakikatnya adalah hanya alat ( scanner ) yang memasukan informasi ke dalam hati. Informasi yang masuk ke dalam hati ini, akan menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, ada seorang penderita penyakit kusta. Bila yang difokuskan oleh mata adalah penyakitnya, maka niscaya hati akan memunculkan kesan jijik. Tetapi bila yang difokuskan oleh mata segi manusia-winya, maka yang timbul adalah rasa iba. Dikisahkan bahwa nabi isa as, ketika berjalan dengan para muridnya, pernah menemukan bangkai seekor anjing. Para muridnya serentak menutup hidung sambil menunjukan rasa jijiknya. Namun nabi Isa as, tersenyum seolah-olah ia tidak melihat ada bangkai dihadapannya. Beliau berkata, “ Coba lihat giginya, betapa putihnya! ”


Inti pelajaran yang diberikan oleh nabi Isa as. itu ialah, bila mata dapat dikendalikan hanya untuk melihat kejadian dari sudut pandang positif saja, maka niscaya hati tidak akan memunculkan kesan negatif .


Kita dapat menggunakan “ilmu” nabi isa tersebut untuk meredam rasa iri hati yang kadang-kadang muncul secara spontan ketika mendengar ada teman kita yang lebih sukses atau lebih kaya dari kita. Caranya yaitu dengan tidak memandang pada pangkat atau harta yang dimilikinya, tetapi dengan mengingat kenyataan bahwa soal rezeki memang dibuat Allah berbeda-beda. Hal ini dilakukan-Nya semata-mata untuk menguji manusia. Ingatlah pesan dari Abdullah bin Mas'ud ra., “ Relakanlah hatimu dengan sesuatu yang Allah berikan untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya. “


Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa Yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu Lebih banyak dari sebagian yang lain.



An-Nisaa' (4):32


Bila kebetulan kita termasuk orang yang dikaruniai banyak harta, maka hendaklah disadari, bahwa harta itu letaknya harus selalu ditangan, jangan biarkan ia menguasai hati. Ingatlah bahwa harta cenderung mengajak pemiliknya untuk membangkang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya.


Rasulullah saw, bersabda : “Tuhanku Telah menawarkan kepadaku untuk men-Jadikan lapangan di kota Mekah menjadi Emas. Aku berkata, “Jangan Engkau jadikan emas wahai Tuhan! Tetapi cukuplah bagiku merasa kenyang Sehari, lapar sehari. Apabila aku lapar, maka aku Dapat menghadap dan mengingat-Mu, Dan ketika aku kenyang aku dapat Bersyukur memuji-Mu. “



HR Ahmad & Tarmidzi


“Sesungguhnya Allah tidak melihat ke-Pada rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat Kepada hati dan amalmu.”



HR Muslim


Aku Tertunduk Memujamu Tuhanku...

Hanya Dialah, yang dapat melakukan apapun yang Dia Kehendaki. Seluruh kekuatan milikNya, Allah Maha Kuasa. Kita bukan siapa-siapa. Tapi Dia mendandani kalian, oh anak Adam, mendandani dengan kehambaan. Dan itulah tingkatan tertinggi, atau kehormatan tertinggi bagi kalian, anak Adam, perintah dari Allah Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Mulia, Maha Kuasa Allah, dengan segala sesuatu ada melalui TanganNya.


Audzubillahimina shaytanirajim, dan kita berlari dari setan kepada Allah. Kalian tidak bisa berbuat apapun untuk setan. Dan kita mengucap bismillahiRahmanirahim dan meminta "tawwaju". Laksana sinar matahari sampai ke bumi, dan Allah Maha Kuasa memberi pakaian yang berbeda-beda kepada hamba-hambaNya, sehingga Cahaya Illahi dapat bersinar dalam hati kalian. Jika (tidak karena pakaian tersebut), maka tidak ada Kekuatan Suci, tidak ada satupun dapat meraih Cahaya Surga, Cahaya Surga tidak bisa diraih. Karenanya, tidak ada yang memohon kepada Allah Maha Kuasa untuk memberikan pengampunanNya. O, Tuan kami, ampunilah kami!



  Mereka berkata, "Mengapa kami memerlukan pengampunan? Memang apa yang kami lakukan?" "Kami tidak melakukan hal-hal yang buruk." Mereka berkata,"Kami orang yang tak berdosa." Itu pernyataan yang bodoh. Pembual, jika berkata,"Mengapa kita berbuat hal yang salah?, kemudian memohon pengampunan dari Allah?"! Mereka berpikir apapun yang mereka lakukan benar adanya. Mereka berpikir mereka tanpa berdosa. Mereka bahkan berpikir tidak pernah berbuat dosa dengan berkata,"Oh Tuanku, ampunilah kami". Itulah ide setan.



  Setan berkata,"Aku tidak melakukan perbuatan dosa, mengapa aku harus memohon Pengampunan dari Allah? Aku tidak berbuat apa-apa". Bahkan setiap orang memohon pengampunan akan berkata,"Mengapa memohon pengampunan, apa yang telah aku lakukan? Aku telah berbuat yang terbaik! Kami tidak melakukan hal yang salah. Semuanya baik-baik saja." Setidaknya hal yang membuat mereka memohon pengampunan menandakan mereka tidak melupakan Allah yang Maha Kuasa.



  Do'a yang dipanjatkan Nabi sallallahu alaihi wasalam,"Oh Tuanku, jangan biarkan aku melupakan Engkau, ketika aku melupakan Engkau, aku terjerembab dalam kegelapan." Dosa terbesar adalah melupakan Pencipta kita. Bagaimana mungkin kalian dapat melupakan Dia dalam setiap hembus nafas kalian? Setan berbuat sesuatu tanpa berpikir. astaghfirullah. Melupakan Dia merupakan dosa terbesar. Apabila kalian melupakan Tuhanmu Allah yang Maha Kuasa artinya kalian hanya tinggal bersama egomu, Tidak ada Tuhan bagimu, melupakan Dia berarti meninggalkanNya, melupakan Tuanmu berarti pula menerima bahwa tidak ada Sang Pencipta,"Kau bukan lagi yang mengendalikan aku".



  Begitu pula halnya dengan ilmuwan, bahkan sebuah kartu ATM kita katakan sebagai benda terkecil yang pernah ada. Siapa yang menciptakan atom? Dia! Dia yang mengendalikan! Bagaimana dengan dirimu sendiri? Berpikir bahwa kamu tidak dikendalikan? Jika kalian mengklaim bahwa kalian tidak dikendalikan, lalu kalian sama seperti lembu melintasi padang rumput tanpa berpikir bahwa dirinya dikendalikan. Karena pengertian tersebut bukan tingkatan lembu. Tapi lembu memiliki pengertian/pengetahuan lain, lembu mengerti bahwa keberadaaan mereka karena seseorang. Lembu tidak pernah berkata kita ada dengan sendirinya, seperti manusia-manusia bodoh yang berkata, "Kami ada karena diri kami (dilahirkan dari manusia .Red), itulah ketidak pedulian terbesar. Tidak ada yang mengerti disini, manusia bodoh! Seperti penghuni padang rumput, berikan perhatian kalian padaKu!



  Ketidakpedulian terbesar bagi manusia abad 21 adalah tidak menerima adanya kendali yang mengendalikan mereka. Tetapi mereka menerima atom, bahwa atom pasti dikendalikan. Tanpa kendali, bagaimana mungkin atom menjadi ada? Apakah atom ada dengan sendirinya? Atom diatur keberadaaannya tanpa satupun kendali dari luar? Siapakan yang membuat titik tengah atom? Siapakah yang membuat elektron yang mengitari atom? Siapakah yang memberikan kecepatan cahaya?



  Namun manusia tidak memikirkannya dan tetap berkata,"Tidak ada yang mengendalikan". Tapi tidak mungkin atom tidak ada yang mengendalikan, jadi bagaimana dengan diri kita sendiri? Kalian mungkin merupakan suatu kumpulan atom, mungkin trilyun, quatrilion, dewasalah dalam berpikir, bagaimana mungkin (kumpulan atom) tidak dikendalikan? Manusia sedang mabuk sekarang dengan mengatakan, "Tidak ada Tuhan". Bagaimana bisa mereka mengatakan hal tersebut?



  Dan mereka pun mencegah "Allah" diucapkan disekolah-sekolah! Kebodohan macam apa itu! Bagaimana kalian dapat mengklaim bahwa tidak ada yang mengendalikan matahari, lautan yang melintasi benua-benua? Dan mereka juga mengatakan bahwa ini adalah pengetahuan yang positif. Apakah positif itu? Kera pun menertawakan. Keledai berkata,"Oh profesor, aku mengetahui bahwa aku dikendalikan, dan aku tahu bahwa yang mengendalikan aku melalui (perantara) tangan umat manusia, kini kalian mengatakan tidak ada kendali, kau lebih rendah daripada keledai". Tamat. Karena umat manusia setara dengan sampah, maka buanglah ke tempat sampah.



  Demikianlah perkataan awliya, akan ada angin topan kematian, darah diganti darah. Bukan darah diganti air, darah diganti darah. Karena mereka mengatakan,"Tidak ada kendali". Setidaknya katakan,"Kami dikendalikan, dialah Sang Pengendali!" Siapakah yang dapat menjadi Sang Pengendali? Abad 21 adalah abad puncak ketidakpedulian. Saling menyakiti satu sama lain. (Tapi) mereka mengelak, hukuman baru akan dimulai. Hari ini lebih baik dari besok, dan hari kemarin jauh lebih cocok dibanding hari ini. Setiap hari makin memburuk. Karena manusia menolak mempelajari Kebenaran atau kenyataan sesungguhnya.



  Mereka mabuk, tidak pernah mengerti apapun, tidak pernah bertanya,"Mengapa hal ini terjadi?" Matahari terbit dan terbenam. Bagaimana dunia yang kita tempati ini dapat berputar dan dalam waktu yang sama sistem matahari berputar dengan arah yang berbeda, orbit, dan galaksi kita juga memiliki orbit berbeda, berputar.. berputar.. berputar…siapa yang membuatnya?" Manusia binasa. Allah yang Maha Kuasa bersabda,"Aku memberikan SumpahKu bahwa Aku yang membuat mereka, mengendalikan mereka, semua manusia yang tidak peduli, orang-orang yang lengah, di suatu tempat yang seharusnya mereka dihukum selamanya dan berada dalam Kutukan Surga hingga selamanya".



  Oh manusia! Waktu yang kita miliki amatlah pendek! Kita jangan mengumpulkan dunya ataupun mengumpulkan uang, jangan. Tetapi kita dikirim ke bumi sebagai kalifah dari Surga! Dan Dia telah memberkati kita untuk menjadi kalifahNya dibumi. Untuk mengumpulkan hal-hal baik, mengumpulkan hal-hal berharga, bukan untuk mengejar hal-hal buruk dibumi, itu tidak bernilai. Tapi itulah pengajaran dari setan, sistem setan, dari timur ke barat, utara ke selatan, (manusia) menjalankannya. Semoga Allah mengampuni kita.



  Oh manusia, segala sesuatu ada batasnya, begitupun hidup kita, kita datang dan kemudian pergi.Semua ada batasnya. Ketika sesuatu telah mencapai batasnya, maka selesailah. Jangan berpikir bahwa kehidupan umat manusia akan berlangsung selamanya, tidak. Suatu hari jiwa mereka, kekuatan spiritual mereka, suatu hari Allah yang Maha Kuasa akan datang mengumpulkan mereka semua, kemudian mereka akan bergelimpangan seperti mayat. Mendekat.Mendekat. Dunya bukan sesuatu yang baru. Jangan berpikir bahwa gedung-gedung tinggi dan teknologi membuat dunya menjadi baru, tidak. Siapakah yang menciptakan dunia, meletakkan batasan diplanet ini. Suatu hari planet ini akan menghilang oleh Perintah Suci.



  Semuanya seharusnya akan muncul padang lain dibumi. Semuanya menjadi seperti pasir. Kalian tidak dapat menemukan sebuah batu, kalian tidak dapat menemukannya, karena banyak gempa bumi yang kuat, bahkan gunung-gunungpun saling berlomba menjadi langit, (maka bumi akan menjadi) seperti padang pasir.  Lalu Allah yang Maha Kuasa akan mengumpulkan mereka agar datang, datang kepadaNya, untuk menghadapi pengadilan. Allah yang Maha Kuasa memberikan TimbanganNya untuk semua umat manusia. Dan waktu tersebut makin dekat, karena tanda-tandanya bermunculan. Dan Nabi sallallahu alaihi wasalam dan orang-orang yang beriman.



  Nabi (saw) pernah bersabda,"Apabila bangsaku berada dijalan yang lurus menuju yang maha benar, Allah yang Maha Kuasa akan memberikan perpanjangan satu hari. Jika mereka menuju jalan setan, maka hidup mereka berkurang setengah hari. Dan setengah hari, datang, satu hari dihadapan Allah yang Maha Kuasa sama dengan 1000 tahun. Artinya sisa hidup 500 tahun. Mereka yang mengikuti syariah kemudian meninggalkan syariah. Kalian tidak akan menemukan sebuah negara yang mengikuti Perintah Suci.



  Saat ini telah berjalan 1400 tahun, artinya 100 (sisa) tahun. {Shaykh Nazim berkata tentang hal serupa beberapa bulan lalu, mungkin yang dimaksud bahwa telah 1000 tahun hidup menjalankan syariah, sehingga tersisa sekitar 500 tahun (manusia) mengikuti setan, yang memberikan kita waktu kira-kira 73 tahun lagi, bila dihitung saat ini kita ada ditahun 1427 hijriah, bila saya tidak salah mengartikan. }



  Kemudian tanda-tanda yang ada mengatakan bahwa ada satu perang besar, Armageddon, Malhamah Kubro. Dunya akan derada ditengah-tengah perang terbesar. Maka berlarianlah manusia dibumi. Siapa yang meraih hari-hari baik, siapa yang menjadi hamba yang murni, siapa yang hidup untuk Tuannya, mereka berada dalam Perlindungan, mereka terlindungi. Jika hidup untuk memenuhi ego, keinginan fisik, maka akan dibawa pergi.



  Semoga Allah mengampuni kita dan memberikan kita cahaya dan pengertian tentang apa yang sedang terjadi disekitar kita. Disemua tempat banyak reklame mengikuti jalan yang salah, melawan Perintah Suci. Dan mereka berlari mencari jalan, mereka pun terjerembab. Semoga Allah mengampuni dan memberkati kita demi kehormatan yang paling terhormat dalam Kehadirat Illahi, Sayyidina Muhammad (SAW)


Dalam renungku…

Langganan: Postingan (Atom)